Hai bestie !
“Kapan mulai mengajarkan anak berpuasa?”
Pertanyaan yang sering dilontarkan para orangtua memiliki anak, khususnya anak yang masih kecil. Kadang bingung ya, apakah mulai dari sekarang mengarkan mereka berpuasa. Apa nanti saja kalau sudah masuk usia sekolah.
Saya pribadi juga masih kebingungan bagaimana cara mengajarkan puasa pada anak. Nah, karena kebingungan itu. Beberapa hari lalu, saya mengikuti webinar diadakan oleh seorang influencer yang fokus membicarakan pernikahan dan pengasuhan secara fitrah.
Ikma Hanifah Restisari atau akrab di panggil teh ikma, sedang membuat webinar gratis melalui zoom yang membahas cara mengajarkan puasa pada anak secara fitrah. Saya pun tertarik mengikuti webinarnya, sehubung membutuhkan ilmunya sebelum mengajarkan pada anak tentang puasa.
Sebelumnya saya akan membahas seberapa penting kah mengajarkan anak berpuasa sejak usia dini. Agar apa saja yang anak rasakan manfaat dari puasa itu. Simak ya !
Pentingnya Mengajarkan Anak Berpuasa Sejak Dini
Mengajarkan anak berpuasa sejak dini merupakan hal baik yang bisa dilakukan. Mengingat, puasa adalah salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan bagi umat muslim. Supaya anak paham makna berpuasa. Bukan hanya menahan haus dan lapar dari waktu sebelum subuh hingga waktu Maghrib. Selain itu, anak bisa paham bahwa puasa merupakan perintah Allah yang wajib dijalankan oleh seluruh umat muslim.
Menurut teh ikma, berpuasa di bulan ramadhan merupakan waktu yang pas untuk mengenalkan keimanan pada anak. Sekaligus, membuat pembiasaan pada anak tentang berpuasa.
Manfaat Puasa Pada Anak
Karena pentingnya mengajarkan berpuasa pada anak, secara tidak langsung anak akan mendapatkan manfaat yang luar biasa. Dari berpuasa anak akan mendapatkan beberapa manfaat, antara lain :
1. Mengenalkan Keimanan Pada Anak
Dengan mengajarkan berpuasa sejak dini pada anak artinya menanamkan nilai keimanan beragama. Membantu anak lebih memahami kewajiban yang harus dilakukan. Anak pun jadi sudah terbiasa dalam berpuasa sejak dini.
Secara fitrah, anak sudah memiliki nilai keimanan sejak lahir. Sebagai orang tua perlu menumbuhkan fitrah keimanan dengan baik dan menyenangkan. Agar anak memiliki sifat positif sebagai bekal kehidupan di dewasa nanti.
2. Anak Belajar Sabar dan Menghargai Waktu
Hakikatnya berpuasa merupakan menahan lapar dan haus. Namun, bukan hanya itu anak bisa belajar sabar saat berpuasa. Sebagaimana sabar menghargai waktu bahwa berpuasa memerlukan kesabaran dalam menjalankannya.
Berikan pemahaman secara mudah disesuaikan usia anak saat belajar puasa. Kemudian, saat waktu berbuka puasa bisa sediakan makanan favorit anak, agar anak senang dan semangat untuk berpuasa lagi esok hari.
3. Anak Paham Hidup Sederhana
Manfaat puasa lainnya bagi anak adalah memberikan pemahaman dalam menjalankan hidup secara sederhana dan secukupnya. Menahan lapar dan haus dapat meningkatkan rasa syukur atas karunia yang telah Allah berikan sampai saat ini.
4. Membantu Tubuh Anak Lebih Sehat
Manfaat dari berpuasa juga mempengaruhi kesehatan jadi lebih baik. Seperti, memperbaiki kesehatan pencernaan. Tentu dengan cara memberikan asupan protein, sayur dan buah secara seimbang saat waktu sahur dan buka puasa.
Perlu dipahami bahwa anak tetap masih membutuhkan nutrisi gizi seimbang untuk pertumbuhannya. Maka, sediakan makanan bergizi agar mendapatkan manfaat berpuasa pada anak secara maksimal.
Tahapan Mengajarkan Anak Berpuasa Berdasarkan Usia
Mengajarkan anak berpuasa perlu dilakukan secara bertahap. Tahapan ini dibagi berdasarkan usia sesuai dengan fitrah keimanan pada anak. Layaknya anak belajar berdiri, dilakukan secara bertahap. Dimulai dari belajar duduk, merangkak hingga bisa berjalan. Sama halnya dalam berpuasa, dengan memperkenalkan puasa dari konsep dasar hingga membiasakan anak puasa dengan baik. Berikut tahapan mengajarkan berpuasa berdasarkan usia anak :
1. Merawat Nilai Puasa Pada Anak usia 0-2 Tahun
Pada usia ini, konsep dalam mengenalkan nilai puasa adalah merawat. Dengan memberikan perkenalkan suasana bulan ramadhan seperti apa kepada anak. Bisa dimulai memberikan contoh rutinitas selama bulan ramadhan.
Ketika di waktu sahur, jika anak ikut terbangun. Maka, boleh dibangunkan saja dan diajak makan sahur bersama. Anak jadi merasakan suasana sahur saat bulan ramadhan. Sedangkan, anak tidak terbangun di waktu sahur, maka tidak perlu dipaksa untuk bangun.Usia 0-2 tahun anak tidak disarankan untuk berpuasa, cukup memperkenalkan rutinitas yang biasa dilakukan.
Memberikan kegiatan yang lebih berbeda untuk menyambut ramadhan, misalnya membuat hiasan dinding bertuliskan ramadhan. Anak diajak menghiasnya, menggunting dan menempel. Libatkan anak pada setiap kegiatannya.
2. Menguatkan Nilai Puasa Pada Anak usia 2- 6 Tahun
Konsep secara fitrah pada kelompok usia anak 2 - 6 tahun adalah menguatkan makna puasa pada anak. Bagaimana proses berpuasa makna yang akan didapatkan, seperti mengenalkan makna sahur, keutamaan berpuasa, manfaat berpuasa, dan memberikan cerita yang membahas tentang puasa.
Ketika waktu sahur, bisa menawarkan kepada anak apakah ingin mencoba ikut makan sahur bersama. Apabila anak mau, bisa dengan membangunkan waktu sahur secara lembut. Sekaligus, tidak perlu memaksakan anak bangun. Kalau anak tidak terbangun, tidak apa membiarkan tidur kembali.
Secara praktek anak bisa mulai mencoba untuk berpuasa, disesuaikan kemampuan anak. Apabila anak hanya bisa puasa sampai jam 9, itu tidak apa-apa. Jika anak sudah merasa lapar, maka berikan anak makan. Jangan sampai memaksakan anak berpuasa hingga Maghrib.
Selain berpuasa, kita juga mulai memberikan teladan ibadah lainnya saat bulan ramadhan. Dengan mengajak anak shalat tarawih di masjid, belajar mengaji, bersedekah dan ibadah lainnya.
3. Menumbuhkan dan Menyadarkan Pada usia 7- 10 Tahun
Usia 7 - 10 tahun konsep fitrah keimanan pada anak yaitu menumbuhkan dan menyadarkan kewajiban menjalankan ibadah puasa. Sebagaimana, kewajiban dalam melaksanakan shalat. Setelah sebelumnya, kita sudah melatih anak berpuasa.
Pada usia ini, anak sudah disarankan untuk dibangunkan sahur. Apabila anak tidak kebangun sahur, bisa membangunkan anak dengan lembut. Menggendongnya dari tempat tidur menuju tempat makan, mengajak anak cuci muka agar bangun sahur. Agar anak paham bahwa di usia ini, anak sudah diharuskan menjalankan kewajiban berpuasa.
Untuk praktek puasa, anak juga sudah diharapkan bisa berpuasa hingga waktu Maghrib. Apabila dijalankannya, anak akan mendapatkan pahala puasa. Tentu memperhatikan kondisi kesehatan anak, jika anak sedang sakit tidak boleh untuk tidak puasa dulu. Makanya, memperhatikan asupan makanan bergizi saat puasa juga penting agar kesehatan anak tetap terjaga dengan baik.
Biasanya di usia ini, anak terkadang mengeluh dan merengek karena lapar dan haus. Agar fokus anak tidak hanya memikirkan haus dan lapar saat berpuasa, orang tua bisa memberikan kegiatan yang menyenangkan untuk mengisi waktu.
4. Mengokohkan Nilai Puasa Pada Usia 11-14 Tahun
Pada usia ini, merupakan usia menuju baligh dimana anak sudah berkewajiban menjalankan ibadah secara penuh dan benar. Karena kemudian hari, amalan baik dan buruk sudah menjadi tanggung jawab sendiri.
Maka, usia 11 hingga 14 tahun waktu yang tepat dalam mengokohkan fitrah keimanan anak sebagai bekal hidup hingga dewasa. Peran orang tua juga penting disini, membangunkan anak waktu sahur dan berpuasa penuh selama bulan ramadhan. Malah disarankan anak sudah bisa dan terbiasa bangun sahur sendiri,
Ajak anak membuat target dan jurnal dalam menjalankan ibadah di bulan ramadhan. Hal apa saja yang ingin dicapai selama bulan ramadhan yang penuh berkah ini. Misalnya, target khatam mengaji 30 juz selama sebulan, target menghafal surat-surat al - Quran, dan masih banyak lainnya.
Selain berpuasa di bulan ramadhan, kita bisa membiasakan anak melakukan ibadah lainnya tanpa disuruh. Berharap anak sudah memiliki kesadaran penuh melakukan kebaikan.
Itulah tahapan mengajarkan berpuasa pada anak berdasarkan usia. Jadi, teman-teman bisa menyimpulkan kah usia berapa anak bisa diajarkan berpuasa?
Dari webinar yang saya ikuti bahwa mengajarkan anak berpuasa sudah bisa dilakukan sejak ia lahir. Di mulai dari konsep pengenalan, makna hingga praktik secara penuh. Walaupun prosesnya yang sangat panjang, namun ini demi kelangsungan anak berikutnya hingga dewasa nanti.
Penutup
Itulah, tahapan mengajarkan puasa pada anak yang bisa dilakukan oleh para orang tua. Sekarang sudah tidak bingung lagi kan, kapan bisa mengajarkan anak puasa?
Semoga kita sebagai orang tua diberikan kemudahan mengajarkan dan mendidik anak dalam kebaikan. Semoga bermanfaat ya.
Posting Komentar