”instagram”
header ruang kecil amina

Orang Tua Harus Tahu! 6 Tips Membangun Kepercayaan Anak

Tips membangun kepercayaan anak

Hai Bestie!

Merasa kah kalian? Kepercayaan menjadi satu hal yang penting dalam sebuah hubungan. Percaya pada seseorang menjadi kunci kekuatan dalam hubungan. Namun, apabila sudah sekali saja terluka, dapat membuat keretakan. Tak terkecuali hubungan antara orang tua dan anak. Lalu, bagaimana membangun kepercayaan anak terhadap orangtuanya?

Artikel kali ini, saya ingin sharing tentang kepercayaan anak kepada orang tua, begitu juga sebaliknya. Beberapa hari lalu saya membaca sebuah e-book gratis dari parenting berdua, pembahasan tentang ‘dimana orang tua saat anak susah?’

Awalnya saya bingung dengan judul buku itu, pernah berpikir apakah ada orang tua yang tega membiarkan anaknya susah? 

Ternyata hal ini, membahas bagaimana kita sebagai orang tua menyikapi perilaku ‘menantang’ anak saat mereka usia dini. Perilaku menantang seperti apa yang sering terjadi pada anak? Apa penyebabnya? Serta apa hubungan dengan kepercayaan anak? Yuk simak pembahasannya!

Dari Rasa Percaya Menjadi Aman

Kepercayaan dalam hubungan orang tua dan anak menjadi sesuatu yang mahal. Saya mencoba menjelaskan POV dari sisi anak dulu. Anak sejak ia lahir hingga usia prasekolah seutuhnya selalu bersama orang tua. Apapun kondisinya, anak tetap ingin di dekat orang tuanya. Jadi, kalau dilihat pasti anak percaya dan nyaman bersama orang tua.

Namun, akan berbeda ceritanya ketika anak sudah mulai tumbuh menjadi anak remaja hingga dewasa. Dimana mereka akan membentuk karakter kepribadian dari pola pengasuhan yang didapatkan sejak kecil.

Termasuk rasa kepercayaan pada orang tuanya. Sederhananya, ketika rasa kepercayaan itu hadir pada diri anak, maka berubah menjadi rasa aman di rumah. Aman baik secara fisik maupun mental. Anak pun akan bebas berekspresi di rumah, menunjukan karakternya dengan utuh. Seperti anak terbuka pada orang tuanya, banyak bercerita, lebih ceria, serta dapat mengungkapkan perasaan yang dialami.

Aman menjadi hasil dari kepercayaan yang anak dapatkan sejak kecil. Artinya, orang tua yang ingin memberikan rasa aman pada anak maka perlu menjaga kepercayaannya.

Menghadapi Perilaku Menantang Anak

Perilaku ‘menantang’ ini bukan sikap yang membahayakan. Tapi biasanya perilaku-perilaku yang terjadi pada anak usia dini. 

Kondisi ini ketika anak mengalami kesusahan dan kesulitan, namun belum paham bagaimana seharusnya bersikap. Kemudian, tidak mendapatkan respon dan penjelasan yang baik. Bisa mengakibatkan perilaku yang kurang baik pada diri anak.

Jadi, anak kebingungan tidak mengetahui arah yang benar seperti apa. Apabila perilaku tersebut dibiarkan saja, bisa menyebabkan anak memiliki karakter kurang baik.

Perilaku ‘menantang’ yang dimaksud dan penyebabnya antara lain :

Anak tantrum. Artinya anak sedang membutuhkan bantuan untuk menyampaikan perasaan yang dialaminya. Lebih sering anak mulai tantrum di usia 2 tahun. Usia tersebut anak sudah mulai merasakan perasaan yang ada di dalam dirinya. Namun, mereka belum paham apa yang dimaksud dengan perasaan itu dan bagaimana bersikap. Jadi, peran orang tua penting untuk mengakui perasaan anak. Misalnya, marah, kecewa, sedih, ataupun kesal dengan suatu hal.

  • Anak banyak bertanya secara berulang. Anak yang sering bertanya, mereka sebenarnya sedang ingin belajar. Karena keingintahuannya sudah mulai ada. Apa yang terlihat dan apa yang terjadi disekitarnya. Maka, penting untuk memberikan fasilitas untuk anak eksplorasi dan belajar mandiri.
  • Tidak sabar menunggu. Anak biasanya ingin selalu cepat mendapatkan sesuatu. Namun, tidak selamanya apa yang anak inginkan terwujud dengan cepat. Saat seperti ini, perlu memberitahu anak tentang konsep menunggu dan bergantian.
  • Mudah memukul. Sama halnya tantrum, tapi ini tingkat yang berbeda. Anak yang memukul karena marah dan kesal. Beritahu batasan yang boleh dilakukan dan tidak dilakukan ketika anak marah. Seperti, anak boleh marah kalau merasa marah dan ingin memukul. Kamu boleh memukul bantal. Tapi, tidak boleh memukul dan melukai orang lain.
  • Masih banyak lagi perilaku yang menantang hadir pada anak usia dini. Apabila perilaku itu muncul pada diri anak, maka peran orang tua lah penting disini. Jangan sampai, kita membiarkan dan cuek dengan kondisi anak. Tanpa memberikan penjelasan, validasi, dan aturan yang anak harus tanamkan pada diri.

Anak akan mempercayai orang tua sebagai support system dalam kehidupannya selama hadir secara utuh peran yang dijalankan oleh orang tuanya. Dimana selalu hadir, setiap mereka butuh dan mengalami kesulitan.

Tips Membangun Kepercayaan Anak

Agar hubungan antara orang tua dan anak selalu lekat. Maka, perlu beberapa usaha untuk membangun kepercayaan anak. Berikut kepercayaan anak yang dapat dilakukan, antara lain :

1. Respon Anak Dengan Cepat

Membangun kepercayaan anak bisa dilakukan sejak bayi. Salah satunya respon anak dengan cepat ketika butuh. Ketika masih bayi yang baru bisa menangis saja, kita berikan apa yang dibutuhkan dengan cepat. Jangan sampai merasa terabaikan. Dengan begitu, anak lebih mempercayai orang tua sebagai tempat aman dan perlindungannya.

2. Berikan Perhatian

Bentuk perhatian pada anak bisa berbagai macam. Mulai dari memenuhi kebutuhan anak secara fisik atau non fisik. Non fisik yang dimaksud adalah perhatian dalam bentuk cinta dan kasih sayang. Menunjukan bahwa anak merasa dicintai keberadaannya, dan bentuk perhatian lainnya. 

3. Ajak Ngobrol Anak

Ajak ngobrol anak bisa membangun kepercayaannya, sekaligus menjadi bentuk  bonding antara orang tua dan anak. Sebab, komunikasi menjadi pondasi dari kepercayaan. Saling berkomunikasi dan menyampaikan pendapat menjadi hal yang penting.

Coba luangkan waktu secara rutin mengobrol dengan anak. Misalnya, sebelum tidur ajak anak ngobrol membahas apa saja yang dilewatinya selama satu hari. Perasaan apa yang dia rasakan. Momen apa yang menyenangkan dilakukan pada hari itu.

4. Bicara Jujur Pada Anak

Saya ingat waktu kecil, ada momen ibu tidak berkata jujur ketika ingin pergi. Saya waktu kecil, malah dialihkan dengan hal lain. Alih-alih agar tidak menangis dan merengek karena kepergian ibu. 

Namun, hal itu tidak tepat dilakukan. Secara tidak langsung mengajarkan anak berkata tidak jujur dan lari dari situasi yang sebenarnya.

Seharusnya, sebagai orang tua berkata jujur dalam situasi apapun. Sekalipun, mengharuskan meninggalkan anak di rumah tanpa mengajaknya. Katakan dengan jujur pada anak, bahwa orang tua perlu pergi tanpa mengajak mereka. Tidak apa-apa jika anak menangis merengek, sehingga anak belajar penerimaan dan perasaan yang dirasakannya ketika orang tua perlu keluar rumah.

Bicara jujur pada anak menjadi kunci hubungan antara orang tua dan anak saling percaya. Maka anak percaya apa yang dikatakan orang tua, sekalipun itu hal yang membuat mereka sedih.

5. Menghargai Kejujuran Anak

Ketika anak melakukan kesalahan, kita perlu mengajarkan anak untuk berkata jujur. Walaupun kejadian tersebut membuat kecewa dan sedih. Anak jadi belajar apapun yang dilakukannya, tetap diterima dengan baik. Sejatinya, kejujuran menjadi bagian penting dalam suatu hubungan. Mahal harganya untuk melakukan kejujuran pada semua hal. Ketika anak sudah berkata jujur, hargai dan berikan apresiasi yang baik. Sehingga, anak merasa apa yang dilakukannya benar.

6. Hindari Membuat Janji yang Tidak Pasti

Sering kali, secara tidak langsung orang tua memberikan banyak janji pada anak. Ketika anak meminta dibelikan sesuatu, namun orang tua tidak bisa memberikannya. Kemudian, dengan mudahnya memberikan janji akan dibelikan nanti. Lebih baik, tidak membuat janji yang belum pasti bisa ditepati. 

Penutup Membangun Kepercayaan Anak

Hubungan yang baik adalah saling mempercayai satu sama lain. Tidak terkecuali hubungan antara orang tua dan anak. Apabila anak sudah mengalami kecewa dengan sikap orang tua, maka ada kemungkinan anak memiliki perilaku yang kurang baik. 

Agar terhindar dari sikap dan perilaku yang kurang baik, perlunya saling membangun kepercayaan anak. Anak akan merasa aman, bebas mengungkapkan pendapatnya, dan rumah menjadi tempatnya mereka pulang. Lakukan tips dalam membangun kepercayaan anak yang sudah dijelaskan sebelumnya, sebagai dasar bukti cinta dan kasih sayang orang tua pada anak-anak. Semoga artikel kali ini bermanfaat ya.

Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar.